This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 29 September 2007

My luphly sistah



Nyoba2 edit pake pothoshop, my sistah yang atu ni, pengen dibuatin pic yang rada2 emo gothic gitu, setelah edit sana sini akhirnya jadi juga, meskipun masih berantakan, hehehe

Jumat, 28 September 2007

Never Be The Same



When I miss U soo

Kamis, 27 September 2007

in memoriam


Sungguh aku tak mengerti, ketika aku harus dihadapkan kepada dilema yang memaksa diriku untuk bisa menerima ataupun memberikan pilihan diantara opsi yang tak pernah aku miliki agar aku dapat memilih. Ketika aku harus mengakui bahwa adanya kehidupan harus diakhiri dengan kematian, sungguh, ketidak-mengertian ini bukan karena aku ingin membodohi diriku sendiri apalagi mengingkari apa yang dikatakan dengan garis takdir manusia, sungguh, aku tidak bermaksud demikian. Hanya saja kadang terlintas dalam benakku, disaat aku merasa kesepian, dikala aku rindu kepada orang-orang yang mengisi hidupku dan ketika aku menyadari ternyata aku telah bersalah dan ingin sekali untuk mengucap kata maaf, seringkali aku tak dapat melakukannya karena adanya pemisah antara kehidupan dan kematian yang tidak mungkin sekali untuk dipertemukan.

Pernah juga terlintas di dalam pikiranku yang sama sekali tidak jernih ini, begitu sia-sianya arti kehidupan yang pernah di jalani, jika harus nantinya juga tak akan diperhitungkan, lenyap bersama jiwa yang terbang entah kemana. Sungguh aku baru menyadari, seharusnya dilema yang aku hadapi ini dapat aku jadikan sebagai bahan refleksiku, sebagai hal yang harus aku renungkan, agar aku tidak menjadi manusia yang sia-sia, agar aku dapat diperhitungkan ketika kehidupanku berlalu, agar aku lebih menyadari dengan sepenuh hatiku, bahwa yang kuasa telah menunjukkan kuasa-Nya dan agar aku mengerti hidup seperti apa yang aku butuhkan agar aku dapat diperhitungkan ketika suatu saat nanti pandangan mataku mulai samar dan jiwaku telah meninggalkan tubuhku yang telah layu. Dan ketika itulah aku tahu bahwa kehidupan akan selalu berjalan melalui perantara kematian yang menyakitkan.




Fucked

Saat terabaikan, seperti terhempas retak, jiwaku berkelana tak ubahnya tercabik, ketika sebuah kejujuran tak akan pernah menjadi lebih berarti karena janji telah teringkari, membuat asa itu pergi dan menghilang.
Satu sisi di dalam diri ini berontak, saat hati ini mencoba untuk bertahan, sepertinya ingin meledak menahan semua penat, semua sesak, namun tak ingin terkulai lemah tanpa arti.

Disini aku mencoba tegarkan diri, disaat sebuah resolusi telah hancur , dimanakah sebuah keadilan Saat satu sisi telah tenggelam untuk sebuah kebohongan yang kau berikan?!. Kusadari bahwa satu sisi dalam dirimu kini telah mengidentitaskan aku tanpa rupa, jadi biarkan aku mengingkari semua yang terjadi, aku tak takut meski sebagian ketegasan yang ada di dalam diriku telah hancur ketika keyakinan itu ada hanya untuk sebuah kebohongan,karena aku akan memuja untuk satu kebohongan lagi.

INTO PIECES



I know him and I’m not the one that you called love
When every roses die
Smashed the heart down it seems like passed him by
Distortion replacing love with rage

Say it one reason (to believe)
Depression will never make it strong
Say it one reason (to believe)
But time’s fading out with words unspoken

I buried myself into this unavailing
When every roses die
Smashed the heart down it seems like passed him by
Distraction replacing love with hate

And everything’s so alone…

When you find someone and set him into the pieces
And all the way you are ,will make it scream in silent voices
You just throw it all and you don’t know at all

Just set it…

I know him



The Last Surrender


We speak tonight but no words to say
What we had lost the way to face the test of time?
When we run again

Too far away from the real, too far away to lose it all
Why we couldn’t keep holding on
And make this things right once again
I’ll never…

Just you are and an attitude blames everything out of control
Makes dead end roads and last surrender
When we run again…

Too far away from the real cant make this things right once again
Too far away from the real I’ll never…

I’ll never


Diantara keangkuhan ini



Saat kita tak mampu untuk mengejawantahkan sebuah ambisi yang ada didalam pikiran kita, saat sebuah motivasi telah menjadi pondasi yang begitu lemah di dalam diri kita untuk mewujudkan obsesi dan kita terlalu jenuh, terlalu rapuh saat dihadapkan pada opsi-opsi yang telah diberikan oleh keadaan, sejenak langkah kita terhenti pada sebuah keraguan diri, sepertinya waktu akan percuma saat keyakinan kita nyaris terkoyak, pendirian kita goyah disaat yang sepertinya telah membuat kita mengeksekusi satu sisi di dalam jiwa kita.
Mungkin kita perlu mendefinisikan alasan-alasan yang telah di berikan oleh hidup, namun kerap kali hati dan logika kita tak pernah sejalan, antara perasaan dan pikiran terkadang 180o bertolak belakang. Jadi, bagaimana kita mendeskripsikan kenyataan ini ?, akankah pikiran kita mengendalikan perasaan kita atau malah perasaan kita yang mengendalikan pikiran kita ?, Cuma kita yang tahu (mungkin).

Kita sadar bahwa kita tak pernah sedikitpun menginginkan kegagalan, kita sadar untuk mengakui bahwa tak pernah sedikitpun kita menginginkan kekalahan. Tapi, disatu sisi kita takut untuk menentukan pilihan karena kita tak ingin memilih didalam sebuah dilema dengan segala kontradiksinya yang mengharuskan kita untuk menerima sebuah kekalahan, namun akhirnya kita juga yang harus memilih yang akhirnya membuat kita memanipulasi pikiran kita dengan kebohongan-kebohongan dan penyangkalan pada hati kita hanya untuk membuat kita tegar dan bisa menerima kekalahan tanpa bisa memungkiri bahwa hati kita kecewa dan terluka didalam sebuah kemunafikan. Apakah ini adalah yang disebut dengan mengalah?, apakah ini yang terbaik?, terbaik untuk kita?, terbaik untuk semua?. Mungkin!?. Tapi pernahkah kita bercermin sedangkan kita takut untuk melihat mata kita sendiri, saat kita merasa bahwa itu bukanlah diri kita dan kita terlalu menyesalkan atas apa yang telah kita lakukan terhadap sebuah kejujuran saat kita terlalu menyalahkan diri kita sendiri. Bagaimana kita menyikapii kesalahan ini?!...

Jadi coba sejenak kita sedikit melihat ke belakang pada sebuah masa lalu, pada cinta, pada kejujuran, pada pengorbanan, pada kegagalan, pada kesalahan, pada penyesalan, dari semua itu kita bisa memaknainya, dari semua itu kita bisa belajar untuk kita bisa lebih memantapkan langkah kita melewati hari esok, kita bisa mempersiapkan diri kita dengan lebih baik, kita mempunyai strategi dan rencana-rencana ke depan yang kita yakini bisa membuat diri kita menjadi lebih berarti meski harus melewatinya dengan luka dan air mata, karena kita akan bisa lebih memahami diri kita sendiri daripada orang lain, kita tak akan pernah kecewa bila kita memegang teguh pendirian kita yang merupakan ketegasan yang telah kita tanamkan didalam diri kita untuk mewujudkan sebuah pembuktian diri. Mari kita buka mata hati dan pikiran kita untuk bisa melihat hidup ini dari sudut pandang dari berbagai sisi dan kita bisa memutuskan bagaimana cara kita menyikapinya, maka kita bisa menilai mana yang terbaik untuk kita ketika hidup ini terasa seperti spekulasi dan skenario yang sengaja diberikan Tuhan untuk kita. Ya, kita bisa memulainya dari sini dengan keteguhan hati kita.



Sign


And we watch another sign without another word we left behind
Is such behavior never warranted when we have a fuckin’ warped mind?
Maladjusted almost over all along the time that we passed by
But we can stop to set this record straight when we suspend the malice aforethought

We spelled for another day but we won’t struck down on another night
Coz we have comprehension and a thing to dignity then we can fill disarray and bleed inside
Again we moved again but we so fear to lose again
Just like a youth fuckin’ ignore an order get a plans to prove a change

There is a hidden meaning behind the sign that we has found
If you show me that as we go blind, we gonna fall into the ground
And the differ will separate us then the unknown split our grip
But we still have more hope to change and this is more than they can take

Do you care if I can’t pretend because we won’t go to lose one more time
Like opportunity I’ll always tryin’ on my life and I’m not give up down
It is getting strange to explain but I fix that problems never pushed aside
I pass the time on 21 you’re gonna be the hidden mistake on my time




Dalam rapuhku



Kehilangan dan terpaku disini saat kau telah pergi
Terlambat tuk sesali semua, hanya tinggal rasa kecewa
Langkahku mengayun melewati hari sepi
Satu kata maaf tak terucap

Mencoba tuk terus bertahan lewati hari yang tak pasti
Tanpamu aku bisa berjalan walau kadang kehilangan arah
Aku coba mengerti dan pahami hidup ini
Ku takkan menyerah menyikapi semua


Kehilangan terpaku disini, sisi gelapku
Langkahku mengayun melewati sepi

Aku takkan menyerah menyikapi semua


Second strange



I’m tired of contradiction in my head
I won’t lie I want my life back
I’m looking for a time to the future
I’m down right and I can’t discourage this
It’s not the same today’s gonna be over
I’m boring here nothing matters anymore
I’m sick in here fate meant me to change
I won’t back and I won’t looking back to the misery

I’m tired of contradiction in my head
I want my life back
For a time to the future
I can’t discourage this
I hope tomorrow’s gonna be better than this days
I wish my sorrow tell me the truth thereafter
I wish I can save this I wont be lost when my life will go on
Let me through this way I won’t too late forever

"I don’t wanna scared to begin, I’m ready to move on!!!"



Seperti sekarang, disini !!!


Mencoba menempatkanmu kembali di satu sisi terang hidupku,
Tapi awan gelap itu masih menyelimuti,
Seperti sekarang, seperti saat kau mulai bermain-main dengan hidupku lagi
Seperti dulu, seperti saat kau benar-benar telah menyesatkan jiwaku.
Batinku menggenggam sebuah dunia kecil yang telah ku bangun,
Menjadikan ketegasan yang telah memberiku pemahaman baru tentang hidup,
Ya, sebuah fase yang dilematik bukan ?
Saat sebuah keyakinan tak akan pernah bisa diyakini lagi,
Saat sebuah kebohongan terasa begitu menarik untuk dipahami dan dimaklumi.
Apakah itu adil ?!.....
Tidak, aku tak pernah mengakui bahwa hidup itu adil, dan kau tak mengerti !.
Bukankah betapa semua kejujuran dan semua impian itu tak terlepas dari peranan NYA?, tapi,…
Betapa aku tak ingin hegemoni besar-besaran itu mengintimidasi keyakinanku saat ini,
Karena hatiku yang dulu telah terbunuh tepat saat sebuah takdir kuanggap sudah hancur
Dan sepertinya aku telah diberi satu kesempatan lagi,
Untuk menyembah satu kebohongan lagi,
Saat nuraniku telah dimakamkan dan terkubur jiwaku didalamnya,
Ya, aku akan menempatkanmu kedalam api
Seperti saat sebelum kau membuatku terbakar,
Seperti saat aku tak pernah bangga melihat kuburanku sendiri
Ya, seperti sekarang
Seperti sekarang, disini.


Downfall Resolution



I’m sorry my friend it’s gonna be come over
I never wanna stay everything is broken
It’s gonna be so bad it feels like disaster
I never gonna be good enough for you
There so many problems this is never ending
until one of us must be giving in
no more time to defends to be together
I think I never wanna doing fine for you

Don’t hold me to runaway
Don’t stop me to runaway

I’m just wanna say just to say goodbye
I know I’m regret I never make you glad
I wish I was strange if I gonna be lonely
I really have to go to searching my way
I’m sorry my friend I don’t wanna make you sad
but we can’t denied we are to different
and it is so hard to walk by side by side
I know you feel so mad but I should have to go



Dalam Jeda ini

"Seperti saat senja dan matahari mulai tenggelam
Ketika jiwa dan logika ini mulai temaram
Kemana arah dan langkah kakiku , ketika harapan semakin gelap dan menghilang ?
Akankah kita dapat bertahan dan menantang ?
Akankah kita dapat membedakan antara harapan dan kenyataan ?"



. . .Suatu saat dimana kita telah menemukan titik yang membuat kita merasa jenuh dengan apa yang telah kita lakukan selama ini, dimana kita membutuhkan suatu hal yang lebih dari apa yang selama ini kita lakukan, kita menginginkan untuk menjadi manusia yang bukan hanya berperan menjadi manusia yang kita perankan saat ini, disaat itulah kita akan merasakan secara tidak sengaja, bahwa banyak hal yang telah berubah dalam diri kita







For a little



It’s about a memory of us
That’s before you go and leave me alone
But there’s nothing something to make it better
Like as you don’t care, you never care

if you know it’s all miss-understanding
I hope so it’s not yet over now
But lets we started a new day together
With honestly and understanding

So give me just one time
For a little, for a best choice at all
And I don’t wanna make you hurt
For a second, I don’t want to

You know it’s hard but you know I’m trying
To understand, to do what’s right
Maybe it’s not too late to said “I’m sorry”
Could you forgive me and don’t ever say goodbye



Terkadang


Kadang kejujuran memang harus menyakitkan
Kadang kemunafikan bisa membuat seseorang menjadi lebih tegar
Kadang kebohongan bisa membuat seseorang menjadi lebih baik
Kadang hidup ini terasa seperti pilih kasih
Kadang dunia ini terasa seperti tak adil
Kadang kepedihan bisa membuka logika seseorang
Atau malah sebaliknya
Kadang kita tak prnah menyadari bahwa ada orang lain di luar sana yang sedang bermain-main dengan hidup kita
Kadang kepercayaan yang kita berikan pada orang lain bisa menjadi “bom waktu” untuk kita sendiri
Kadang kita bisa menjadi bencana bagi orang lain atau juga sebaliknya
Kadang pengkhianatan adalah satu-satunya jalan keluar
Kadang sebuah ketegasan
Yang kita miliki adalah alibi untuk menutupi kekurangan kita
Kadang kita merasa teringkari saat kita berdiri diatas pendirian kita sendiri
Kadang kita terlalu takut untuk memilih sebuah pilihan
Untuk perubahan
Kadang kita terlalu meyakini sebuah hegemoni tanpa kita sadari bahwa kita telah terintimidasi
Kadang satu sisi dalam kehidupan ini terasa seperti fatamorgana




Kamis, 20 September 2007

I swear I HATE you






Fall to pieces
The worst is over, I can’t pretend ignorance to build and describe
Unstoppable time, should I spent this last forever to forget once again
With this broken wings,
Trying to hold on with this empty space, I try to write on this blank note book page
To found a reason when I lose them before

it Ends tonight

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


We don’t care anymore, we can’t trust anymore
We build the committed but go to nowhere
Responsibilities just make the promises never gonna be real
Like this grinding

the holly ghost in
yeah....,The holly ghost in, I just wanna feeling fine
But the holly ghost in, take my arms into deep inside
That mistake had set my empty tonight
Like it was on fallen well I look at your grave, I never found a sight
It ends tonight


Rabu, 19 September 2007

Aku benci harus mengakui semua ini

Aku benci harus mengakui semua ini, ketika hidupku dihadapkan pada sebuah pilihan yang harus kujalani, 7 tahun sampai hari ini aku mencoba untuk menjadi diriku sendiri, tapi apa yang kudapat?!, aku hanya menemukan sebuah keadaan yang tak pernah bersinergi.

Setiap cara dan setiap rencana bukan milikku, hanya secuil harapan yang kuprjuangkan hanya untuk bertahan didalam sebuah keyakinan dari setiap mimpi-mimpi yang mereka berikan.

Aku tak mengerti ini tanggung jawab atau balas budi, yang aku tahu aku menjalani semuanya demi mereka dan aku tahu ini merupakan kesalahan dari awal, tapi tak ada yang perlu disesali, semuanya telah terjadi, aku hanya perlu mengalir meski tersendat sampai akhirnya aku menemukan sebuah titik dimana aku harus lepas dari semuanya dan kembali menjadi diriku sendiri , kembali menemukan mimpiku sendiri dan aku akan menentukan jalanku sendiri untuk mencapainya.




Sabtu, 15 September 2007

Nietzche dalam aporianya mengenai Keberulang-kembalian-segala-sesuatu”


Apa yang akan kau katakan, seandainya pada suatu hari, di suatu malam, Iblis
menyelinap ke dalam kesunyianmu yang paling dalam dan berkata padamu: “Hidup
ini, sebagaimana telah kau hidupi dan sedang kau hidupi sekarang ini, harus kau
hidupi sekali lagi dan berulang-ulang tanpa batas;


Tidak akan ada sesuatupun yang baru dalam hidup itu, kecuali bahwa setiap
rasa sakit dan rasa senang, setiap pemikiran dan setiap rintihan, apa saja yang
kecil maupun besar yang tak bisa dirinci dalam hidupmu, harus kembali lagi
semua untukmu, dalam susunan dan urut-urutan yang sama—juga laba-laba di sana
itu, juga cahaya bulan di antara pepohonan itu, dan juga saat ini, juga aku.
Inilah keabadian eksistensi yang menyerupa jam-pasir yang tak henti
dibolak-balik… dan kau di dalamnya
Oh..butiran debu dari segala debu-debuan!


Nah, apakah mendengar ini kau akan melemparkan dirimu ke lantai,
menggeretakkan gigi sambil mengutukiku sebagai malaikat jahat yang telah
berbicara seperti ini padamu? Atau, ini justru menjadi saat menakjubkan bagimu,
sehingga lalu kau bisa berkata: “Kau adalah Tuhan, dan belum pernah aku
mendengar hal lebih kudus dari yang kau ucapkan.


Jika pemikiran seperti ini menguasai dirimu, maka pemikiran itu akan
mentransformasi dirimu, dengan tetap membiarkanmu menjadi dirimu sendiri,
bahkan jika perlu dengan menghancurkanmu.


Kamis, 13 September 2007

Tak ada yang tersisa

Aku meneriakkan kata-kata ini kepada mereka yang tak pernah mendengarkan, aku menuliskan kata-kata ini dengan perasaan sangat terhukum, disini semuanya telah menjadi begitu gelap, dingin dan tercabik, semua ini sepertinya menjadi terlalu lama, dan aku tak memiliki waktu lebih lama lagi untuk melawan semua ini.

Di setiap tahun yang kulewati tak ada satupun yang mendengar perasaanku yang sebenarnya, dan kau tetap bertindak seolah seperti kau tahu benar tentang diriku, Pernahkah kau berhenti berpikir bahwa aku akan dapat singgah dan mengatakan bahwa aku stabil


Terlalu terlambat untuk bisa merubah pikiranku, tak ada yang tersisa, aku telah melewati hal-hal yang menyakitkan....
jangan katakan padaku bahwa aku bisa mudah untuk keluar dari semua ini....

tak ada jaminan yang mendasari untuk meniru bahwa apa yang kau dapat dariku adalah apa yang aku keluarkan, Tak seorang pun tahu sedikitpun tentang diriku, kecuali hanya keinginan untuk bisa diterima, menunggu sampai kau melihat apa yang telah terjadi padaku.
Dan kehidupan yang memuakkan ini
Terlalu terlambat untuk bisa merubah pikiranku, tak ada yang tersisa, aku telah melewati hal-hal yang menyakitkan....
jadi jangan katakan padaku bahwa mudah bagiku untuk bisa keluar dari semua ini....

Rabu, 12 September 2007

Aku menempatkan temanku kedalam api


Aku menempatkan temanku kedalam api, seperti saat aku melihat kuburanmu aku
tak merasa hidup
Aku menempatkan temanku kedalam api, seperti saat aku melihat kedalam matamu aku tak merasa hidup
Aku menempatkan temanku kedalam api, sekarang aku akan menyerah
aku menempatkan temanku kedalam api, sekarang aku akan memberikan kehidupanku
bila aku mengatakannya padamu
sekarang, aku tak akan merasa hidup
bila aku membunuhmu sekarang, aku tak akan merasa bangga
bila aku membunuhmu sekarang, aku bisa membakar tempat itu

apa in?? skali lagi bakar!!!, bakar!!!, bohong!!!, Bohong, sekali lagi!!!
BAKAR!!!!, bakar!!!, BOHONG!!!!, bohong!!!, atur sekali lagi!!!

ya, sepertinya aku diberi satu kesempatan lagi
ya, sepertinya aku diberi satu kesempatan lagi sekarang!!!

"sinar matahari terlihat melalui setiap celah dedaunan, dan menyalakannya seperti kedalam kobaran api, tepat saat senja"
Mari kita lihat dunia kedalam mata ini dan katakan sekali saja, tidak lebih.
Mari kita lihat dunia kedalam mata ini dan katakan sekali lagi, sekali lagi.....

ya.. sekali lagi, satu kehidupan lagi, ketika aku berdoa saat ini,
disaat aku diberi satu kesempatan lagi untuk berbohong kepada hari setelah kehidupanku.....
sekali lagi aku menyembah.... satu kebohongan lagi!!!

Selasa, 04 September 2007

Ketika 1+1 tidak = 2


Pernahkah kita menyadari betapa rancunya diri kita , saat kita terjebak di dalam kesalahan yang sama, saat kita terlalu menyalahkan diri kita sendiri, sementara orang lain di luar sana seakan bermain-main dengan hidup kita. Pernahkah kita menyadari ketika kita menemukan sebuah celah untuk keluar dari segala kerumitan namun keyakinan kita goyah di atas pendirian kita sendiri, sepertinya kontradiksi di dalam batin ini nyaris mendegradasi pola pikir kita, otak kita hanya terfokus pada sisi gelap hidup kita yang orang lain tak pernah tahu, pernahkah kita menyadari bahwa kepercayaan itu sulit didapat, ketika kejujuran seakan tak menarik lagi untuk dihargai.

Baiklah, kita punya sikap dan kepribadian untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik, kita yang terkadang terlalu skeptis dalam memperhitungkan untuk sebuah pilihan yang mungkin sangat sepele sekalipun, kita yang selalu ingin terlihat sempurna di mata orang lain, kita yang selalu ingin di mengerti, di hargai dan terlihat baik ketika orang lain menilai kita dalam sebuah komitmen. Ini wajar, karena kita manusia. Tapi,
coba kita lihat ke dalam dan bertanya pada diri kita, apakah kita harus membuat orang lain untuk bisa memahami diri kita sementara kita tak pernah bisa memahami orang lain. Ini konyol, sedangkan kita terkadang justru kesulitan untuk memahami diri kita sendiri, ya ini konyol, tahu apa kita tentang komitmen ?!...

Hmmm…. Komitmen !?, kurasa komitmen yang sedang kita jalani ini mungkin hanya sebuah lelucon, karena kupikir kita hanya bersandiwara diatas sebuah kepercayaan yang dimana didalamnya terdapat kejujuran yang merupakan alibi untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Munafikmemang !!, tapi inilah adanya !.karena kebohongan itu telah menghancurkan harapan kita dan nyaris menyesatkan langkah kita dan kita terlalu egois juga keras kepala untuk mengakui sebuah kepura-puraan yang terjadi selama ini. Pikiran kita telah mendoktrin hati kita yang hamper saja membutakan mata ini untuk melihat sebuah realita, dimana hidup ini terasa seperti spekulasi yang konyol, peran kita untuk membangun sebuah hubungan itu mungkin adalah sebuah kesalahan yang fatal, perjuangan kita mungkin nihil sama sekali tak menghasilkan sesuatu yang berharga, tapi kita tak bisa saling menyalahkan, karena kita semua benar dan kita semua pun salah, saat sebuah kepercayaan tercabik tanpa kita bisa menyangkal betapa tipisnya jarak antara kesetiaan dan pengkhianatan, betapa tipisnya jarak antara pengorbanan dan pemberontakan.

Jadi, marilah kita renungkan, kita punya pendirian dan sikap, kita punya komitmen terhadap diri kita sendiri, bahwa kita punya tanggung jawab yang patut dipertanggung-jawabkan, tak lain dan tak bukan bahwa semua itu untuk kita sendiri dan untuk masa depan.
Kita bisa menata ulang hidup kita, menata ulang interior dalam ruang dan pola berpikir kita agar bisa di pertaruhkan untuk sebuah penilaian. Kita bisa memulainya dari sini, saat ini, dengan sebuah idealisme yang kita tanamkan pada hati kita untuk membuka cakrawala pandangan baru tanpa mengindahkan dan terlepas dari ideologi anti kemapanan, ya, kita bisa memulainya dari sini, saat dimana kita telah memiliki konsep yang paling fundamental di dalam diri kita dan kita mempunyai pemahaman-pemahaman untuk dimaknai meskipun kita tidak mendeskripsikannya secara transparan demi sebuah harga diri, karena kita mampu memegang teguh prinsip (berhaluan) pada garis keras yang kita tanamkan di dalam diri kita sendiri, tanpa memungkiri bahwa kita adalah manusia yang saling membutuhkan dan dengan menyadari bahwa kesalahan bisa saja terjadi karena kita bukan manusia yang sempurna.

sebuah refleksi

Ketika kita tergilas diantara reaksi sebuah kondisi yang kontradiktif, kita di benturkan pada sebuah peran yang dilematik yang menempatkan kita pada poros dari inti suatu keadaan yang begitu kondusif dan itu membuat kita berada pada sebuah pilihan untuk memilih sesuatu yang harus kita prioritaskan. Namun ketika saat itu juga kita melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda dengan logika kita, cara pandang kita yang tak pernah selaras dengan hati, saat itu kita akan menyadari bahwa kita tak pernah bangga akan apa yang telah kita lakukan, ketika kita merasa tidak puas atas apa yang telah di berikan oleh hidup, ketika kita lebih bisa menerima kebahagiaan daripada penderitaan.

Ya…, mungkin sebsnarnya kita tak menyadari betapa labilnya diri kita dan bahwasannya kelabilan itu sendiri adalah sebuah propaganda dari alibi atas penilaian kita untuk menyikapi segala sesuatu yang telah terjadi saat kita memiliki asumsi-asumsi yang limit tentang sebuah realita, dimana diri kita lebih bisa menilai daripada dinilai yang mana penilaian itu sendiri merupakan sebuah nilai yang terdapat di dalam diri kita yang tak bisa kita paparkan dan itu adalah alasan yang konkrit mengapa kita men-spekulasi apa yang ada di dalam diri kita dan adalah mengapa terkadang kita selalu di dramatisir oleh sebuah keadaan.

Mungkin semua ini telah digariskan untuk menjadi seperti saat ini,krtika penyikapan kita tak ubahnya sebuah metamorfosa dari sebentuk keangkuhan jiwa, sedang keangkuhan jiwa itu sendiri adalah kekuatan stimulasi di dalam diri kita untuk sebuah propaganda di dalam pemikiran kita terhadap suatu opsi yang diberikan oleh keadaan yang diprtaruhkan saat kita telah menemukan sesuatu yang tak pernah bisa kita pertahankan, saat dimana sesuatu itu tak pernah memberikan keadilan. Tapi kita bukanlah orang-orang yang narsis, kita bisa membangun kehidupan dengan penuh kejujuran terhadap diri kita sendiri




metamorfosa dari sebentuk keangkuhan jiwa

Bila jiwa kita terasa seperti serpihan kamuflase dlam fatamorgana kehidupan, saat hati kita menjadi budak abolisi dari buah pikiran kita, kita sepertinya terbelenggu di dalam sebuah dogma dan ketakutan-ketakutan mendominasi keraguan kita dengan alasan yang tidak rasional. Kadang kita merasa jenuh akan hal-hal yang kita lakukan dan itu mendisposisikan kita pada sesuatu yang labil dan kadang kita juga tak peduli akan hal-hal yang tidak kita lakukan, karena kita adalah manusia yang dimanusiakan oleh manusia diantara manusia-manusia yang terkadang tidak manusiawi. Dimanakah sebuah keadilan?!, apakah ini adil?!!...

Kita adalah alasan mengapa idealisme hamper berarti keangkuhan saat kita mengisi hidup dengan cara kita dan gaya kita sendiri, dengan pendirian kita yang principal, kita tak perlu memaksakan pada orang lain untuk bisa memahami dan mengerti kita tapi setidaknya kita memahami siapa diri kita sebenarnya.

Kita adalah manusia yang memiliki intuisi dan sanggup untuk berdikari diantara kepingan-kepingan waktu dan keadaan yang terkadang tak sejalan dengan rencana yang kita miliki, tanpa memungkiri bahwa harapan-harapan kita tak lebih banyak adalah hanya sebuah isapan jempol, tapi kita bukanlah makhluk yang diciptakan sebagai alat untuk mendeskripsikan kehidupan dengan menggunakan akal sehat kita yang sedikit tidak sehat. Kita mempunyai pandangan-pandangan dari setiap sisi kehidupan dengan cukup beralasan, kita memiliki sebuah dunia kecil yang kita bangun sendiri dan disitu kita memerankan diri kita sebuah peran yang benar-benar kita perankan dan ini bukanlah ketololan yang melodramatic dari rentetan waktu yang seakan mengingkari.

Pernahkah terbesit dalam pikiran kita bahwa kita pernah merasa tak lebih baik dari diri kita sebelumnya?, saat dimana sebelum kita meledak bagai bom waktu yang menuntut sebuah keadilan, saat hati kita belum menjadi puing-puing yang berserakan diantara tangisan kejujuran yang membasahi kita dengan butiran duri yang siap menancapi telapak kaki kita saat kita beranjak untuk melangkah meninggalkan masa lalu, sebuah lembaran yang penuh goresan dan luka yang kini terkubur di dalam batin kita, tapi kita memiliki nurani untuk memaknai hidup meskipun kita tak mampu memaparkannya secara subyektif dan obyektif tentang segalanya termasuk apa yang ada di luar logika kita, namun kita bisa menerjemahkannya ke dalam diri kita sebentuk arti yang bisa kita maknai tentang hidup tanpa harus diucapkan lrwat kata-kata, karena kita memiliki kemampuan untuk mengubah harapan menjadi kenyataan dengan tekad yang membaja, kita memiliki pilihan untuk memilih sebuah perubahan yang positif, karena pada dasarnya kita yang menentukan hidup kita sendiri, meski bagaimanapun juga hidup kita ada di dalam genggaman kita.

Jadi mari kita luangkan waktu sejenak untuk merefleksikan ego kita, menenangkan pikiran kita dan kita lihat dunia ini dari sisi yang paling sederhana, apa adanya, seperti saat senja dan matahari mulai tenggelam, kehidupan adalah roda waktu yang terus berputar dan waktu adalah seperti air yang mengalir dan kita tak bisa memprediksikan apa yang akan terjadi kemudian, tapi kita akan terus mengalir, terlahir untuk hidup dan hidup untuk mati.

Senin, 27 Agustus 2007

Tribute tidak untuk sebuah apapun...

Bawa aku pada sebuah kesunyian, biarkan aku melihat dengan jelas sebuah perpisahan dan pengkhianatan, diantara kerapuhan ini ada ketidakmampuan didalam keangkuhanku untuk memaafkan sebuah kesalahan.

Oh Tuhan... Kurasa aku buta, aku telah melihat banyak warna tapi tak satupun yang kudeskripsikan dengan benar dan sejenak sepertinya aku menyaksikan hidup ini melebur hanya dalam sebentuk warna yang bias menyilaukanku dan mataku tak mampu menerjemahkan setiap objek ketika aku telah mendapatinya didalam sebuah degradasi makna, saat mereka telah menggoreskannya diatas setiap lembaran hidup ini.

Sendiri disini, lagi-lagi sahabat hanya diriku sendiri yang mencoba untuk memahami keraguan yang selalu menghantui setiap detik yang berlalu -getir-, bawa aku pada kematian sebuah mimpi, biarkan aku membunuh sebuah kejujuran agar aku bisa terbangun, membuka mata yang terpejam untuk kembali mencari kepingan warna yang hilang dan memastikan bahwa semua ini memang begitu berwarna, agar aku bisa menempatkannya kembali dengan bijaksana didalam hidupku, ketika logika tak mampu lagi menjelaskannya biarkan hati ini yang memegang peranan umtuk melihat, menyaksikan dan menilai cerita yang telah terlukis didalam kehidupan yang tak terlepas dari peran-Mu, saat mereka telah begitu banyak bicara dengan kata-kata yang telah menikam dirinya sendiri, saat mereka telah menempatkan hidup kedalam pilihan-pilihan yang fana bukannya sebuah keputusan besar yang nantinya diperhitungkan...
Oh Tuhan..., Mungkin aku buta, tapi ijinkan aku menafsirkan, disaat mereka telah melibatkanku kedalam kontradiksi, mengguncang ketabahanku, dan lalu menghempaskanku dan karena itu aku tak tahu apakah aku harus mendendam?, apakah aku harus membenci?, apakah aku harus marah?, haruskah aku berterima kasih atau justru aku harus iba?, sungguh aku tak tahu bagaimana harus menyikapinya disaat aku telah melihat diriku sendiri menjadi bagian dari warna yang begitu samar, mungkin lebih baik aku menyingkir (meski ku tahu itu takkan menyelesaikan semua) ataukah lebih baik aku terdiam ?... mungkin lebih baik aku menyingkir dan terdiam agar kata-kata tak ikut membunuhku... Sampai aku berada disini mencoba untuk renungkan tentang kita.

ApoloGia

Ketika aku berdiri diatas pendirianku, merevaluasi setiap nilai saat kata-kata tak cukup kuat untuk mendeskripsikan fatalitas dari sebuah ekstrimitas kesakitanku mengkhianati sebuah kepastian tanpa syarat dari naluri tentang apa yang pada waktu itu diperlukan melebihi segala-galanya, jiwaku mencoba mereduksi akal dan hatiku disaat waktu telah dengan mudah membelokkan aku kesana dan kemari, namun ketika sebuah perasaan halus akan jarak telah mengelakkan aku dari sebuah justifikasi atas sebuah perasaan paling bersalah terhadap diriku sendiri, aku sadari sebuah penebusan dari setiap hal antara aku dan engkau dan pada setiap refleksi tentang lakuku dalam menaiki setiap inci kehidupan.

aku tak membutuhkan apa-apa bahkan kata-kata untuk diejawantahkan sekalipun !, kebisuan kita telah berbicara begitu banyak tentang banyak hal, bahkan disaat aku berada pada jalan yang salah engkau masih tetap merengkuhku mengalir didalam darahmu, dan disaat aku hanya diam tatkala mengakui sejenak pengabaian atas diriku sendiri.

dan ketika keyakinanku mengalami difusi dari rasa dan logika atas risalah masa lalu, rencana dan harapan serta sebuah keputusan dari realitas yang kuhadapi ketika aku mencoba untuk lebih dekat dengan diriku sendiri, tatapan matamu telah bercerita begitu panjang tentang segala rahasia, tentang keajaiban dan anugerah yang sudah sepatutnya aku syukuri.

dan kini aku hanya ingin menegaskan walaupun aku telah secara diam-diam mengikutimu dengan rasa bangga, haru, dan dengan perasaan penyesalan akan kesalahanku selama ini... aku hanya ingin menyatakan bahwa aku tak membutuhkan apapun, kecuali nafasmu yang akan kujadikan sebagai penuntun .

seberapa kuatkah keyakinan seseorang bisa bertahan?

sesorang mengatakan padaku bahwa keyakinan ga boleh mati atau terbunuh, tapi sampai berapa lama sih keyakinan seseorang bisa bertahan ?, sometimes, ada saatnya keyakinan kita rapuh... gw pernah ngerasain hal semacam itu dan mereka bilang kalo itu salah, dan keyakinan itu seharusnya di perkuat.... yeahh.... mungkin, tapi yang kuyakini selama ini ga pernah membatku yakin.

pernahkah, ketika suatu saat kau terbangun dan tersadar bahwa apa yang selama ini kau yakini telah salah, dan sesuatu yang telah kamu yakini telah mengecewakan perasaanmu, mengkhianati kehidupanmu?!.....sekuat apapun keyakinan seseorang, pasti akan selalu ada rintangannya, so, bagaimana denganmu???? maybe, no one knows......

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More