This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 27 Agustus 2007

Tribute tidak untuk sebuah apapun...

Bawa aku pada sebuah kesunyian, biarkan aku melihat dengan jelas sebuah perpisahan dan pengkhianatan, diantara kerapuhan ini ada ketidakmampuan didalam keangkuhanku untuk memaafkan sebuah kesalahan.

Oh Tuhan... Kurasa aku buta, aku telah melihat banyak warna tapi tak satupun yang kudeskripsikan dengan benar dan sejenak sepertinya aku menyaksikan hidup ini melebur hanya dalam sebentuk warna yang bias menyilaukanku dan mataku tak mampu menerjemahkan setiap objek ketika aku telah mendapatinya didalam sebuah degradasi makna, saat mereka telah menggoreskannya diatas setiap lembaran hidup ini.

Sendiri disini, lagi-lagi sahabat hanya diriku sendiri yang mencoba untuk memahami keraguan yang selalu menghantui setiap detik yang berlalu -getir-, bawa aku pada kematian sebuah mimpi, biarkan aku membunuh sebuah kejujuran agar aku bisa terbangun, membuka mata yang terpejam untuk kembali mencari kepingan warna yang hilang dan memastikan bahwa semua ini memang begitu berwarna, agar aku bisa menempatkannya kembali dengan bijaksana didalam hidupku, ketika logika tak mampu lagi menjelaskannya biarkan hati ini yang memegang peranan umtuk melihat, menyaksikan dan menilai cerita yang telah terlukis didalam kehidupan yang tak terlepas dari peran-Mu, saat mereka telah begitu banyak bicara dengan kata-kata yang telah menikam dirinya sendiri, saat mereka telah menempatkan hidup kedalam pilihan-pilihan yang fana bukannya sebuah keputusan besar yang nantinya diperhitungkan...
Oh Tuhan..., Mungkin aku buta, tapi ijinkan aku menafsirkan, disaat mereka telah melibatkanku kedalam kontradiksi, mengguncang ketabahanku, dan lalu menghempaskanku dan karena itu aku tak tahu apakah aku harus mendendam?, apakah aku harus membenci?, apakah aku harus marah?, haruskah aku berterima kasih atau justru aku harus iba?, sungguh aku tak tahu bagaimana harus menyikapinya disaat aku telah melihat diriku sendiri menjadi bagian dari warna yang begitu samar, mungkin lebih baik aku menyingkir (meski ku tahu itu takkan menyelesaikan semua) ataukah lebih baik aku terdiam ?... mungkin lebih baik aku menyingkir dan terdiam agar kata-kata tak ikut membunuhku... Sampai aku berada disini mencoba untuk renungkan tentang kita.

ApoloGia

Ketika aku berdiri diatas pendirianku, merevaluasi setiap nilai saat kata-kata tak cukup kuat untuk mendeskripsikan fatalitas dari sebuah ekstrimitas kesakitanku mengkhianati sebuah kepastian tanpa syarat dari naluri tentang apa yang pada waktu itu diperlukan melebihi segala-galanya, jiwaku mencoba mereduksi akal dan hatiku disaat waktu telah dengan mudah membelokkan aku kesana dan kemari, namun ketika sebuah perasaan halus akan jarak telah mengelakkan aku dari sebuah justifikasi atas sebuah perasaan paling bersalah terhadap diriku sendiri, aku sadari sebuah penebusan dari setiap hal antara aku dan engkau dan pada setiap refleksi tentang lakuku dalam menaiki setiap inci kehidupan.

aku tak membutuhkan apa-apa bahkan kata-kata untuk diejawantahkan sekalipun !, kebisuan kita telah berbicara begitu banyak tentang banyak hal, bahkan disaat aku berada pada jalan yang salah engkau masih tetap merengkuhku mengalir didalam darahmu, dan disaat aku hanya diam tatkala mengakui sejenak pengabaian atas diriku sendiri.

dan ketika keyakinanku mengalami difusi dari rasa dan logika atas risalah masa lalu, rencana dan harapan serta sebuah keputusan dari realitas yang kuhadapi ketika aku mencoba untuk lebih dekat dengan diriku sendiri, tatapan matamu telah bercerita begitu panjang tentang segala rahasia, tentang keajaiban dan anugerah yang sudah sepatutnya aku syukuri.

dan kini aku hanya ingin menegaskan walaupun aku telah secara diam-diam mengikutimu dengan rasa bangga, haru, dan dengan perasaan penyesalan akan kesalahanku selama ini... aku hanya ingin menyatakan bahwa aku tak membutuhkan apapun, kecuali nafasmu yang akan kujadikan sebagai penuntun .

seberapa kuatkah keyakinan seseorang bisa bertahan?

sesorang mengatakan padaku bahwa keyakinan ga boleh mati atau terbunuh, tapi sampai berapa lama sih keyakinan seseorang bisa bertahan ?, sometimes, ada saatnya keyakinan kita rapuh... gw pernah ngerasain hal semacam itu dan mereka bilang kalo itu salah, dan keyakinan itu seharusnya di perkuat.... yeahh.... mungkin, tapi yang kuyakini selama ini ga pernah membatku yakin.

pernahkah, ketika suatu saat kau terbangun dan tersadar bahwa apa yang selama ini kau yakini telah salah, dan sesuatu yang telah kamu yakini telah mengecewakan perasaanmu, mengkhianati kehidupanmu?!.....sekuat apapun keyakinan seseorang, pasti akan selalu ada rintangannya, so, bagaimana denganmu???? maybe, no one knows......

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More