Kamis, 27 September 2007

Diantara keangkuhan ini



Saat kita tak mampu untuk mengejawantahkan sebuah ambisi yang ada didalam pikiran kita, saat sebuah motivasi telah menjadi pondasi yang begitu lemah di dalam diri kita untuk mewujudkan obsesi dan kita terlalu jenuh, terlalu rapuh saat dihadapkan pada opsi-opsi yang telah diberikan oleh keadaan, sejenak langkah kita terhenti pada sebuah keraguan diri, sepertinya waktu akan percuma saat keyakinan kita nyaris terkoyak, pendirian kita goyah disaat yang sepertinya telah membuat kita mengeksekusi satu sisi di dalam jiwa kita.
Mungkin kita perlu mendefinisikan alasan-alasan yang telah di berikan oleh hidup, namun kerap kali hati dan logika kita tak pernah sejalan, antara perasaan dan pikiran terkadang 180o bertolak belakang. Jadi, bagaimana kita mendeskripsikan kenyataan ini ?, akankah pikiran kita mengendalikan perasaan kita atau malah perasaan kita yang mengendalikan pikiran kita ?, Cuma kita yang tahu (mungkin).

Kita sadar bahwa kita tak pernah sedikitpun menginginkan kegagalan, kita sadar untuk mengakui bahwa tak pernah sedikitpun kita menginginkan kekalahan. Tapi, disatu sisi kita takut untuk menentukan pilihan karena kita tak ingin memilih didalam sebuah dilema dengan segala kontradiksinya yang mengharuskan kita untuk menerima sebuah kekalahan, namun akhirnya kita juga yang harus memilih yang akhirnya membuat kita memanipulasi pikiran kita dengan kebohongan-kebohongan dan penyangkalan pada hati kita hanya untuk membuat kita tegar dan bisa menerima kekalahan tanpa bisa memungkiri bahwa hati kita kecewa dan terluka didalam sebuah kemunafikan. Apakah ini adalah yang disebut dengan mengalah?, apakah ini yang terbaik?, terbaik untuk kita?, terbaik untuk semua?. Mungkin!?. Tapi pernahkah kita bercermin sedangkan kita takut untuk melihat mata kita sendiri, saat kita merasa bahwa itu bukanlah diri kita dan kita terlalu menyesalkan atas apa yang telah kita lakukan terhadap sebuah kejujuran saat kita terlalu menyalahkan diri kita sendiri. Bagaimana kita menyikapii kesalahan ini?!...

Jadi coba sejenak kita sedikit melihat ke belakang pada sebuah masa lalu, pada cinta, pada kejujuran, pada pengorbanan, pada kegagalan, pada kesalahan, pada penyesalan, dari semua itu kita bisa memaknainya, dari semua itu kita bisa belajar untuk kita bisa lebih memantapkan langkah kita melewati hari esok, kita bisa mempersiapkan diri kita dengan lebih baik, kita mempunyai strategi dan rencana-rencana ke depan yang kita yakini bisa membuat diri kita menjadi lebih berarti meski harus melewatinya dengan luka dan air mata, karena kita akan bisa lebih memahami diri kita sendiri daripada orang lain, kita tak akan pernah kecewa bila kita memegang teguh pendirian kita yang merupakan ketegasan yang telah kita tanamkan didalam diri kita untuk mewujudkan sebuah pembuktian diri. Mari kita buka mata hati dan pikiran kita untuk bisa melihat hidup ini dari sudut pandang dari berbagai sisi dan kita bisa memutuskan bagaimana cara kita menyikapinya, maka kita bisa menilai mana yang terbaik untuk kita ketika hidup ini terasa seperti spekulasi dan skenario yang sengaja diberikan Tuhan untuk kita. Ya, kita bisa memulainya dari sini dengan keteguhan hati kita.



0 komentar:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More