Sungguh aku tak mengerti, ketika aku harus dihadapkan kepada dilema yang memaksa diriku untuk bisa menerima ataupun memberikan pilihan diantara opsi yang tak pernah aku miliki agar aku dapat memilih. Ketika aku harus mengakui bahwa adanya kehidupan harus diakhiri dengan kematian, sungguh, ketidak-mengertian ini bukan karena aku ingin membodohi diriku sendiri apalagi mengingkari apa yang dikatakan dengan garis takdir manusia, sungguh, aku tidak bermaksud demikian. Hanya saja kadang terlintas dalam benakku, disaat aku merasa kesepian, dikala aku rindu kepada orang-orang yang mengisi hidupku dan ketika aku menyadari ternyata aku telah bersalah dan ingin sekali untuk mengucap kata maaf, seringkali aku tak dapat melakukannya karena adanya pemisah antara kehidupan dan kematian yang tidak mungkin sekali untuk dipertemukan.
Pernah juga terlintas di dalam pikiranku yang sama sekali tidak jernih ini, begitu sia-sianya arti kehidupan yang pernah di jalani, jika harus nantinya juga tak akan diperhitungkan, lenyap bersama jiwa yang terbang entah kemana. Sungguh aku baru menyadari, seharusnya dilema yang aku hadapi ini dapat aku jadikan sebagai bahan refleksiku, sebagai hal yang harus aku renungkan, agar aku tidak menjadi manusia yang sia-sia, agar aku dapat diperhitungkan ketika kehidupanku berlalu, agar aku lebih menyadari dengan sepenuh hatiku, bahwa yang kuasa telah menunjukkan kuasa-Nya dan agar aku mengerti hidup seperti apa yang aku butuhkan agar aku dapat diperhitungkan ketika suatu saat nanti pandangan mataku mulai samar dan jiwaku telah meninggalkan tubuhku yang telah layu. Dan ketika itulah aku tahu bahwa kehidupan akan selalu berjalan melalui perantara kematian yang menyakitkan.



0 komentar:
Posting Komentar