Pernahkah kita menyadari betapa rancunya diri kita , saat kita terjebak di dalam kesalahan yang sama, saat kita terlalu menyalahkan diri kita sendiri, sementara orang lain di luar sana seakan bermain-main dengan hidup kita. Pernahkah kita menyadari ketika kita menemukan sebuah celah untuk keluar dari segala kerumitan namun keyakinan kita goyah di atas pendirian kita sendiri, sepertinya kontradiksi di dalam batin ini nyaris mendegradasi pola pikir kita, otak kita hanya terfokus pada sisi gelap hidup kita yang orang lain tak pernah tahu, pernahkah kita menyadari bahwa kepercayaan itu sulit didapat, ketika kejujuran seakan tak menarik lagi untuk dihargai.
Baiklah, kita punya sikap dan kepribadian untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik, kita yang terkadang terlalu skeptis dalam memperhitungkan untuk sebuah pilihan yang mungkin sangat sepele sekalipun, kita yang selalu ingin terlihat sempurna di mata orang lain, kita yang selalu ingin di mengerti, di hargai dan terlihat baik ketika orang lain menilai kita dalam sebuah komitmen. Ini wajar, karena kita manusia. Tapi,
coba kita lihat ke dalam dan bertanya pada diri kita, apakah kita harus membuat orang lain untuk bisa memahami diri kita sementara kita tak pernah bisa memahami orang lain. Ini konyol, sedangkan kita terkadang justru kesulitan untuk memahami diri kita sendiri, ya ini konyol, tahu apa kita tentang komitmen ?!...
Hmmm…. Komitmen !?, kurasa komitmen yang sedang kita jalani ini mungkin hanya sebuah lelucon, karena kupikir kita hanya bersandiwara diatas sebuah kepercayaan yang dimana didalamnya terdapat kejujuran yang merupakan alibi untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Munafikmemang !!, tapi inilah adanya !.karena kebohongan itu telah menghancurkan harapan kita dan nyaris menyesatkan langkah kita dan kita terlalu egois juga keras kepala untuk mengakui sebuah kepura-puraan yang terjadi selama ini. Pikiran kita telah mendoktrin hati kita yang hamper saja membutakan mata ini untuk melihat sebuah realita, dimana hidup ini terasa seperti spekulasi yang konyol, peran kita untuk membangun sebuah hubungan itu mungkin adalah sebuah kesalahan yang fatal, perjuangan kita mungkin nihil sama sekali tak menghasilkan sesuatu yang berharga, tapi kita tak bisa saling menyalahkan, karena kita semua benar dan kita semua pun salah, saat sebuah kepercayaan tercabik tanpa kita bisa menyangkal betapa tipisnya jarak antara kesetiaan dan pengkhianatan, betapa tipisnya jarak antara pengorbanan dan pemberontakan.
Jadi, marilah kita renungkan, kita punya pendirian dan sikap, kita punya komitmen terhadap diri kita sendiri, bahwa kita punya tanggung jawab yang patut dipertanggung-jawabkan, tak lain dan tak bukan bahwa semua itu untuk kita sendiri dan untuk masa depan.
Kita bisa menata ulang hidup kita, menata ulang interior dalam ruang dan pola berpikir kita agar bisa di pertaruhkan untuk sebuah penilaian. Kita bisa memulainya dari sini, saat ini, dengan sebuah idealisme yang kita tanamkan pada hati kita untuk membuka cakrawala pandangan baru tanpa mengindahkan dan terlepas dari ideologi anti kemapanan, ya, kita bisa memulainya dari sini, saat dimana kita telah memiliki konsep yang paling fundamental di dalam diri kita dan kita mempunyai pemahaman-pemahaman untuk dimaknai meskipun kita tidak mendeskripsikannya secara transparan demi sebuah harga diri, karena kita mampu memegang teguh prinsip (berhaluan) pada garis keras yang kita tanamkan di dalam diri kita sendiri, tanpa memungkiri bahwa kita adalah manusia yang saling membutuhkan dan dengan menyadari bahwa kesalahan bisa saja terjadi karena kita bukan manusia yang sempurna.
Baiklah, kita punya sikap dan kepribadian untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik, kita yang terkadang terlalu skeptis dalam memperhitungkan untuk sebuah pilihan yang mungkin sangat sepele sekalipun, kita yang selalu ingin terlihat sempurna di mata orang lain, kita yang selalu ingin di mengerti, di hargai dan terlihat baik ketika orang lain menilai kita dalam sebuah komitmen. Ini wajar, karena kita manusia. Tapi,
coba kita lihat ke dalam dan bertanya pada diri kita, apakah kita harus membuat orang lain untuk bisa memahami diri kita sementara kita tak pernah bisa memahami orang lain. Ini konyol, sedangkan kita terkadang justru kesulitan untuk memahami diri kita sendiri, ya ini konyol, tahu apa kita tentang komitmen ?!...
Hmmm…. Komitmen !?, kurasa komitmen yang sedang kita jalani ini mungkin hanya sebuah lelucon, karena kupikir kita hanya bersandiwara diatas sebuah kepercayaan yang dimana didalamnya terdapat kejujuran yang merupakan alibi untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Munafikmemang !!, tapi inilah adanya !.karena kebohongan itu telah menghancurkan harapan kita dan nyaris menyesatkan langkah kita dan kita terlalu egois juga keras kepala untuk mengakui sebuah kepura-puraan yang terjadi selama ini. Pikiran kita telah mendoktrin hati kita yang hamper saja membutakan mata ini untuk melihat sebuah realita, dimana hidup ini terasa seperti spekulasi yang konyol, peran kita untuk membangun sebuah hubungan itu mungkin adalah sebuah kesalahan yang fatal, perjuangan kita mungkin nihil sama sekali tak menghasilkan sesuatu yang berharga, tapi kita tak bisa saling menyalahkan, karena kita semua benar dan kita semua pun salah, saat sebuah kepercayaan tercabik tanpa kita bisa menyangkal betapa tipisnya jarak antara kesetiaan dan pengkhianatan, betapa tipisnya jarak antara pengorbanan dan pemberontakan.
Jadi, marilah kita renungkan, kita punya pendirian dan sikap, kita punya komitmen terhadap diri kita sendiri, bahwa kita punya tanggung jawab yang patut dipertanggung-jawabkan, tak lain dan tak bukan bahwa semua itu untuk kita sendiri dan untuk masa depan.
Kita bisa menata ulang hidup kita, menata ulang interior dalam ruang dan pola berpikir kita agar bisa di pertaruhkan untuk sebuah penilaian. Kita bisa memulainya dari sini, saat ini, dengan sebuah idealisme yang kita tanamkan pada hati kita untuk membuka cakrawala pandangan baru tanpa mengindahkan dan terlepas dari ideologi anti kemapanan, ya, kita bisa memulainya dari sini, saat dimana kita telah memiliki konsep yang paling fundamental di dalam diri kita dan kita mempunyai pemahaman-pemahaman untuk dimaknai meskipun kita tidak mendeskripsikannya secara transparan demi sebuah harga diri, karena kita mampu memegang teguh prinsip (berhaluan) pada garis keras yang kita tanamkan di dalam diri kita sendiri, tanpa memungkiri bahwa kita adalah manusia yang saling membutuhkan dan dengan menyadari bahwa kesalahan bisa saja terjadi karena kita bukan manusia yang sempurna.



0 komentar:
Posting Komentar