Selasa, 04 September 2007

sebuah refleksi

Ketika kita tergilas diantara reaksi sebuah kondisi yang kontradiktif, kita di benturkan pada sebuah peran yang dilematik yang menempatkan kita pada poros dari inti suatu keadaan yang begitu kondusif dan itu membuat kita berada pada sebuah pilihan untuk memilih sesuatu yang harus kita prioritaskan. Namun ketika saat itu juga kita melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda dengan logika kita, cara pandang kita yang tak pernah selaras dengan hati, saat itu kita akan menyadari bahwa kita tak pernah bangga akan apa yang telah kita lakukan, ketika kita merasa tidak puas atas apa yang telah di berikan oleh hidup, ketika kita lebih bisa menerima kebahagiaan daripada penderitaan.

Ya…, mungkin sebsnarnya kita tak menyadari betapa labilnya diri kita dan bahwasannya kelabilan itu sendiri adalah sebuah propaganda dari alibi atas penilaian kita untuk menyikapi segala sesuatu yang telah terjadi saat kita memiliki asumsi-asumsi yang limit tentang sebuah realita, dimana diri kita lebih bisa menilai daripada dinilai yang mana penilaian itu sendiri merupakan sebuah nilai yang terdapat di dalam diri kita yang tak bisa kita paparkan dan itu adalah alasan yang konkrit mengapa kita men-spekulasi apa yang ada di dalam diri kita dan adalah mengapa terkadang kita selalu di dramatisir oleh sebuah keadaan.

Mungkin semua ini telah digariskan untuk menjadi seperti saat ini,krtika penyikapan kita tak ubahnya sebuah metamorfosa dari sebentuk keangkuhan jiwa, sedang keangkuhan jiwa itu sendiri adalah kekuatan stimulasi di dalam diri kita untuk sebuah propaganda di dalam pemikiran kita terhadap suatu opsi yang diberikan oleh keadaan yang diprtaruhkan saat kita telah menemukan sesuatu yang tak pernah bisa kita pertahankan, saat dimana sesuatu itu tak pernah memberikan keadilan. Tapi kita bukanlah orang-orang yang narsis, kita bisa membangun kehidupan dengan penuh kejujuran terhadap diri kita sendiri




0 komentar:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More