Ketika itu hari mulai senja, saat aku memaksa diri untuk keluar untuk melihat goresan waktu yang mengukir rutinitas di setiap rencana pada dinding-dinding udara yang terkontaminasi, dan sejenak mataku terfokus pada sebuah harapan dan setiap objek yang kuperhatikan selalu terdapat dualitas dan itu selalu bertolak belakang, sejenak aku tertegun menatap kekosongan, kekosongan yang hanya merupakan alasan untuk mengusir sejeda kesibukan.
Udara dingin mulai menyelimuti, matahari berpulang dan burung-burung kembali ke sarang, kumbang besi pengais rejeki dijalanan merayap pulang disertai asap hitam yang menyesakkan paru-paru kota ini. dan aku masih berdiri mematung, sampai saat lampu-lampu mulai dinyalakan, berharap sedikit menyinari gagasan, gagasan yang tersamar yang masih perlu dipertimbangkan...
bingung jodolnya pa'an
Sesuatu telah tertunda !
Anjing.... semua telah berlalu begitu saja, ya semua memang salahku
membiarkan semua berlalu begitu saja
jadi biarkan saja aku memaki, maki diriku sendiri pada akhirnya...
Sesal...ketika waktu seolah berjalan di titik nol
tanpa perubahan, ketika aku mencoba melawan
waktu hanya sampah dan sepertinya aku terbunuh sebagai pecundang!
Apakah aku mati?, Persetan !, aku tak akan menyerah
aku telah memulai, dan tak akan berhenti sampai disini !
Apa yang kumulai... pasti akan ku akhiri
selesaikan semua...
Anjing... waktu terbuang percuma karena kelalaianku
membiarkan semua berlalu begitu saja
sampai kusadari, aku tak ingin kalah sebagai pecundang
Apakah aku mati?, Persetan !, aku tak akan menyerah
aku telah memulai, dan tak akan berhenti sampai disini !
Apa yang kumulai... pasti akan ku akhiri
selesaikan semua...
walau terlambat !
akan kuusaikan semua
